Mengais Rezeki pada Bulan Cheng Beng di TPU Tionghoa

Selama masih berlaku Tradisi Ziarah Cheng Beng bagi warga Tionghoa, Saya yakin masih bisa mengais Rezeki dengan menjual jasa tenaga di Lokasi pekuburan Tionghoa setiap Tahun,nya. “Sepotong ucapan ini keluar dari keyakinan seorang Pemuda, Ismail (30) Warga sei Sigiling yang kerap menjual Jasa tenaga menjadi pemoles/Pemugar kuburan di Tempat pemakaman Umum (TPU) Tionghoa Kota Tebingtinggi, mengawali perbincangannya dengan Penulis, di lokasi pemakaman Tionghoa di kelurahan tebingtinggi kecamatan Padang Hilir kota setempat.

Menurut Ismail yang juga tinggal di tidak berapa jauh dari pemakaman tersebut, perasaan optimisnya menjual Jasa tenaga menjelang Perayaan Cheng Beng ini bukan tidak beralasan, dari pengalaman tahun tahunya sebelumnya, profesi musimannya itu tetap dapat menghasilkan rupiah yang lumayan banyak.

Sebagaimana dituturkannya panjang lebar, Bahwa Cheng beng merupakan suatu upacara ritual menghormati leluhur bagi Warga Suku Tionghoa, dalam kalau sudah dibulan Cheng Beng tersebut biasanya Warga Tionghoa banyak yang walaupun sudah merantau di luar kota, akan datang khusus berziarah meminta berkah kepada leluhur sembari memanjatkan doa dipekuburan tersebut.

Para Penziarah atau keluarga yang dikubur dipemakaman ini, biasanya banyak yang sudah bermukim di luar kota tebingtinggi bahkan ada yang sudah tinggal di Luar Negeri, sudah pasti tidak lagi ada waktu untuk merawat makam orang tuanya maupun keluarga mereka yang dimakamkan di tempat itu, Katanya.

“Hingga saya beserta warga sekitar disetiap menjelang perayaan Cheng beng diminta oleh keluarga maupun penziarah untuk merawat dan memugar kuburan orang tua maupun keluarganya” ungkap Pria itu seraya menyeka keringatnya.

Atas pekerjaan memugar dan merawat makam tadi,menurutnya para penziarah akan memberikan upah mulai dari Rp. 100 ribu hingga Rp. 200 ribu untuk satu kuburan, ” Jadi Kalau kita merawat sampai 10 Makam saja setiap Tahun,nya, hitung hitung Rp.1 sampai 2 juta juta juga Bang” ungkapnya menjelaskan penghasilan dari merawat Makam itu. Namun menurut pengalaman dia, jarang keluarga pemilik Makam memberi pas-pasan, “terkadang karena merasa puas melihat makam keluarganya dipoles bagus, mereka tidak segan segan memberi 300 ribu. Jadi terkadang bisa juga mendapat hasil sampai 2 juta lebih.

Namun, Katanya itu masih Perhitungan untung, terkadang bisa juga Apes, dimana ketika dirinya sudah memugar sedemikian rupa, ternyata si keluarga pemilik makam tidak datang, tapi itu menurutnya jarang.

Hal yang sama juga diungkapkan rekan Ismail yang lainya, Ali Misalnya pria berusia 35 tahun ini menuturkan, bahwa untuk memoles satu makam, dia telah memasang tarif, yakni Untuk membersihkan makam serta halamannya dia membuat tarif Rp. 50 Ribu dan itu belum lagi bila pengecetan, “Tapi keluarga pemilik makam jarang mas memberi pas pasan, pasti selalu berlebih karena kita juga memoles makam keluarganya benar benar bagus” sebut ali

Namun ditambahkan Ismail, bahwa tidak dipungkiri, karena hasil yang diperoleh dari pekerjaan musiman ini cukup lumayan, tidak jarang juga terjadi jual beli kuburan diantara mereka, diceritakannya bahwa masing masing kuburan di pemakaman itu sudah ada yang merawatnya, hingga siperawat kuburan terkadang memberikan kuburan yang dirawatnya pada orang lain, dimamna orang yang menawarkan tadi akan meminta uang misalnya sebesar Rp. 100 hingga 200 ribu kepada orang yang ditawarkan lantas tiba saatnnya Cheng beng si pembeli tadi kemudian menerima biaya perawatannya dari pihak keluarga pemilik makam sebesar “begitulah bang, hitung hitung sipembeli tadikan masih untung, sedangkan kerjanya tidak begitu berat” cetusnya.

Mendengar penuturan Ismail dan Ali tersebut, pada kenyataannya Pekerjaan musiman yang digelutinya sekali setahun itu termasuk pekerjaan yang menjanjikan, karena disamping mereka dapat mengakis rezeki, pihak Keluarga pemilik makampun merasa senang dan terbantu, menjumpai makam keluarga maupun orang tuanya ada yang merawat sekalipun harus merogoh kocek dan yang jelas dari penuturan Imeil tersebut dirinya masih menyimpan rasa optimis dengan pekerjaan musiman itu guna menambah penghasilannya,- (Junjungan Saragih)

Tentang junjungan Saragih

Saya adalah seorang Journalist Media Cetak di daerah
Pos ini dipublikasikan di CATATAN & ARTIKEL. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s