Semalam, di lorong-lorong Jokjakarta

Yogyakarta atau juga disebut Jokja, merupakan sebuah Provinsi yang selama ini dikenal sebagai Pelajar, Kota Budaya, kota wisata  dan sebagainya. Banyak hal dari kota Yokyakarta yang sangat menarik untuk di telusuri, di bahas, di perdebatkan dan tentunya lagi adalah ini dinikmati.

Setidaknya itulah yang diketahui masyarakat dan penulis sendiri melalui cerita, media, televisi dan lain sebagainya  tentang jokja, namun ternyata, setelah penulis menginjakkan kaki di Kota Istimewa ini, ternyata, Jogja juga mempunyai kehidupan yang hitam, yang kelam yang kejam.

Berbicara tentang kenikmatan duniawi yang katanya haram, memang merupakan sebuah bisnis yang tak mengenal kata rugi, yang tak akan pernah hilang walaupun dengan fatwa – fatwa dari lembaga keagamaan atau cibiran yang tidak menyenangkan dan hukuman moral dari masyarakat yang bersih ataupun yang pura – pura bersih.

Pun juga halnya dengan Kota Jogja ternyata tidak terlepas dari yang mananya lokasi protistusi, kota ini juga ternyata memiliki banyak tempat yang dapat mewujudkan keinginan-keinginan nakal seperti itu, memang Banyak cerita mengatakan bahwa, sebuah kota metropolitan mempunyai berbagai macam sisi yang kelam, namun setau saya, Jogja bukan merupakan sebuah kota metropolitan. namun adalah kota Pelajar,Kota Wisata dan Budaya, bagaimana ceritanya ? berikut penelusuran penulis

*******

JARUM Arloji saya sudah menunjuk Pukul 13.00 WIB, susah nyaris tengah malam rupanya, namun keinginan menikmati suasana malam kota jokja membuat penulis ingin berkeling kota jokja, dengan menyewa sebuah Becak, akhirnya penulis dapat juga berkeliling kota jokja, khususnya mariboro.

Namun dalam perbincangan dengan abang becak yang membawa saya berkeliling kota Jokja, yang menarik perhatian sekaligus mengejutkan adalah sebuah tawaran untuk mampir ke lokasi esek-esek yang ternyata sudah menjamur di kota Jokja. “disini banyak mas lokasinya kalau mau cari cewek, biar saya bawakan ?, banyak pilihan mas ada 600-an orang, mas tinggal pilih atau lihat-lihat  dulu” ucap abang penarik beca seperti promosi kepada  penulis.

Wah…..ternyata lokasinya tidak jauh dari Hotel tempat penulis menginap, sejurus penarik beca membawa saya ke sebuah gang di seberang Hotel tempat penulis menginap,  di simpang gang, penulis sudah disambut dengan ramah dan senyuman oleh seorang pria, sembari mengajak memasuki gang tersebut, hanya berjarak 50 ke dalam, sudah bertaburan wanita wanita muda penjaja sex di dalam sebuah rumah dengan dandanan yang menor dan seksi., “Silakan duduk dan lihat lihat mas, disini aman kog” ungkap pria yang ternyata pengelola tempat itu.

“Ini belum seberapa lae, kalau kurang cocok ada lagi tempat yang jauh lebih ramai ceweknya” kata Penarik beca yang membawasaya dengan menyebut saya “Lae” setelah mengetahui penulis berasal dari medan, mendayun, lebih kurang 5 menit, kamipun sampi di sebuah gang yang saya tidak tahu nama gang dan jalannya, namun tidak jauh dari jalan Jononegaran.

Dari luar terlihat suasana biasa saja, tidak ada tanda tanda kalau didaerah ini terdapat lokasi Prostitusi, namun setelah seratus meter memasuki Gang, puluhan Wanita-wanita muda dengan dandanan yang merangsang hirahi, terlihat duduk duduk sambil ngobrol dengan sesama wanita lainya dan ria hidung belang di kiri kanan gang tersebut.

Ternyata apa yang dikatakan penarik beca tersebut benar adanya, seluruh Gang-gang yang begitu banyak di lokasi itu semua dipenuhi para Wanita wanita penjaja sex, Suasana- remang dengan kilatan cahaya lampu daru dari rumah rumah penduduk di gang itu seolah menyambut kedatangan para tamu. Sebagian dari mereka terlihat asyik berbincang dengan pria-pria Hidung belang, Sementara sebagian lainnya hanya berdiri dan duduk mengobrol, sambil sesekali mencuri pandang dan menegur sapa ke arah sekelompok lelaki yang masuk ke gang tersebut.

Tidak sedikit juga rumah rumah warga di situ yang menjadi tempat mangkal para WTS dan Pria Hidung belang tersebut menyediakan makanan dan minuman botol, berjalan keseluruh gang yang yang beigtu banyak jumlahnya, semuanya dipenuhi dengan pemandangan yang sama.

Menurut Penarik beca yang membawa penulis, para Penjajak sex yang berada di gang-gang rumah penduduk ini merupakan penjaja sex kelas Bawah yang mematok tarik sekitar 100 sampai 200 ribuan, untuk sekali Sow, “untk tempatnya sejumlah rumah warga juga bisa dipakai, karena ada sejumlah penduduk di gang itu yang memang menyediakan kamar untuk tempat WTS dan Pria Hidung belang berkencan, atau kalau kurang nyaman bisa membawa ke hotel kelas melati le” kata penarik beca itu sembari mengingatkan agar tidak usah merasa takut, karena lokasi tersebut aman dari razia.

Parahnya lagi, dilokasi itu, terpantau para Pekerja Sex ada memberi semacam uang keamanan yang berkedok sebagai uang kebersihan kepada seorang Pria yang duduk stanbay di kursinya yang dilengkapi dengan sebuah meja  dan terdapat sepotong triplek diata mejanya b ertulis “Uang kebersihan”, disebutkan, para setiap Pekerja sex yang mendapat tamu wajib memberi uang kebersihan yang jumlahnya ribuan rupiah.

Tetapi bukan hal itu yang akan kita tekankan sekarang, melainkan bisnis esek-esek yang semakin menjamur di kota jogja ini yang sampai beroperasi di gang-gang rumah penduduk, padahal penduduk disitu mempunyai sanak keluarga seperti suami nak anak anak mereka, namun seolah olah penomena itu seperti sudah menjadi hal biasa bagi mereka yang tidak perlu mereka kwatirkan anak merusak moral anak-anak mereka.

Dan sepertinya, tidak ada yang peduli dengan praktek prostisusi tersebut, aparat keamanan pun kabarnya tak ambil pusing dengan kegiatan ini.“mungkin uang kutipan yang berdalih “uang kebersihan” tadi juga digunakan sebagai uang untuk mengatur kelancaran bisnis terselubung itu.

Memang, Bicara jujur, yang namanya Prostitusi ternyata bukanlah hal yang baru di kota Jokja, siapa yang tidak kenal dengan  Sarkem atau jalan Pasar kembang, entah mengapa namanya disebut Pasar Kembang, kerana setahu saya selama beberapa hari di kota Jokja, tidak ada yang penjual kembang yang mangkal di sana, tapi menurut teman saya yang banyak di pasar kembang itu adalah wanita penjaja sex, “Siapa yang tidak kenal dengan sarkem ?, tempat ini selalu banyak dikujungi pria pria atau suami yang kurang terpuaskan oleh istrinya, karena disini juga gampang mencari kembang-kembang (wanita penjaja sex red) yang kerap nongkrong mencari mangsa” kata Penarik beca itu lagi.

Yang lebih mengejutkan lagi,apa yang dilihat dan di dengar penulis perihal tempat esek-esek jokja tersebut diatas, belum seberapa, ternyata masih ada lagi yang lebih mengejutkan, yakni sejumlah Mahasisi (pelajar red) Jokja yang punya double job menjadi pelajur.

Yang kita datangi ini, masih lokasi prostitusi kelas bawah, kalau kelas atasnya masih ada lagi, yang tentu taripnya lebih tinggi, karena ceweknya banyak yang mahasiswa dan anak sekolah” kata abang beca itu lagi mempromosikan.

Namun aksi dan sepak terjang “penjaja sex dari kalangan mahasiswi tersebut lebih rapi dan berkelas dibanding dengan penjaja sex kelas menengah kebawah tadi, dimana menurut informasi yang diperoleh, sejumlah pelajar yang memiliki double job tadi nongkrong di Cafe cafa yang ada di jokja. “kalau mau cari mahasiswi di cafe mas, mereka tidak bisa ditemukan di pinggir pinggir jalan” sebut teman penulis.

Harga yang mereka patok pun katanya pasti lebih mahal dibanding dengan kupu kupu malam di daerah penacuran atau pinggi jalan. Entah apa yang menjadi alasan utama beberapa mahasiswi memutuskan untuk terlibat di dunia pelacuran tidask diketahui pasti.

Namun yang sering menjadi alasan adalah bahwa mereka harus membayar uang kuliah sendiri, kecewa dengan pacar, dan ada juga karena ingin hidup bermewah mewah. Bisanya mereka beraktivitas selepas matahari terbenam, dan disamping jika ingin menenui mereka di Cafe-cafe, bisa juga di hubungi lewat seorang penghubung.

Disebutkan, Cafe itu, digunakan para penjaja sex tadi hanya sebagai tempat mencari mangsa dan deal harga, sedangkan jika sudah sepakat, mereka bertemu dengan teman kencanya adalah ditempat yang telahg ditentukan seperti Hotel misalnya, kata Teman penulis.

Melihat realitas diatas, siapakah yang hendak kita salahkan ?, kalau alsaan mereka melacurkan diri karena desakan ekonomi, apakah tidak ada lagi pekerjaan yang lainya ?, atau memang tidak ada lagi pekerjaan yang bisa mereka kerjakan ? atau memang hanya karena Trauma masa lalu, Gaya hidup tau tuntutan ekonomi ?, mungkin semua itu alasan bagi mereka untuk terjun ke lembah Hitam.

Namun, satu hal yang Yang penulis tidak habis pikir, adalah gelar kepada Jokjakarta selama ini yang kerap didengung dengungkan sebagai Kota pelajar, Kota Wisata dan lain sebagainya, namun ternyata memiliki banyak lokasi prostitusi, selain pasar kembang dan gang tersebut, jokja, katanya juga masih banyak memiliki tempat-tempat prostitusi  yang terselubung.apakah benar demikian ? entahlah namun yang pasti, Kota Jokja yang selama ini saya ketahui sebagai Kota pelajar ternyata tidak seindah yang saya dengar, setelah melihat realita yang ada.

Sangat diharapkan kiranya pemerintah Propinsi Yokyakarta, untuk peduli dengan penomena tersebut, karena melihat begitu maraknya transaksi prostitusi di kota itu, tidak ada kata tidak tahu buat pemerintah jokja untuk tidak mengetahuinya, jadi yang perlu dipertanyakan adalah, apakah Muspida di Daerah Instimewa ini masih memiliki rasa peduli untuk memberantas maraknya aksi propstitusi tersebut didaerahnya ? entahlah hanya mereka yang tahu jawabanya,- (Junjungan Saragih)

Tentang junjungan Saragih

Saya adalah seorang Journalist Media Cetak di daerah
Pos ini dipublikasikan di CATATAN & ARTIKEL dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s